PENDIDIKAN DAN PERUBAHAN KEBUDAYAAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,  pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta  keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi  pengajaran  keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat  tetapi  lebih mendalam yaitu  pemberian pengetahuan, pertimbangan dan  kebijaksanaan. Kata kebudayaan berasal dari kata budih dalam bahasa sansekerta yang berarti akal kemudian menjadi kata budhi (tunggal) atau budhaya (majemuk) sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil pemikiran atau akal manusia. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kekbudayaan berasal dari kata budhi dan daya. Budhi adalah akal yang merupakan unsur rohani dalam kebudayaan, sedangkan daya berarti perbuatan atau ikhtiar sebagai unsure jasmani sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil dari akal dan ikhtiar manusia. Dalam bahasa inggris, kebudayaan adalah culture, berasal dari kata culere (bahasa yunani) yang berarti mengerjakan tanah. Kebudayaan dan pendidikan juga saling berpengaruh. Karena kebudayaan itu sebagai sesuatu yang kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, akhlak, hukum, kebiasaan-kebiasaan, dan kemampuan lain yang diperoleh seseorang dari pada pendidikan. Namun, pada bab ini kami akan membahas mengenai pendidikan dan perubahan kebudayaan. Serta seberapa besar pengaruh pendidikan terhadap kebudayaan atau sebaliknya.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana proses perubahan kebudayaan?
  2. Aliran apa saja yang dapat  mempengaruhi dan mengontrol kebudayaan?
  3. Bagaimanakah pandangan-pandangan beberapa Antropolog mengenai kebudayaan?

C. Tujuan

  1. Memahami proses perubahan kebudayaan.
  2. Mendeskripsikan beberapa aliran yang dapat  mempengaruhi dan mengontrol kebudayaan.
  3. Mengetahui dan memahami pandangan-pandangan beberapa Antropolog mengenai kebudayaan.

 

BAB II

 

PEMBAHASAN

 

Kebudayaan bersifat konstan tetapi juga selalu berubah, tetap dalam arti elemennya seperti bahasa dan hukum berlanjut terus tanpa perubahan besar selama waktu yang panjang. Dikatakan berubah karena semua elemen-elemennya secara perlahan mengalami perbahan. Perubahan kebudayaan mencakup tiga proses utama yaitu: originasi, difusi dan reinterpretasi.

  1. Originasi adalah penemuan elemen-elemen baru dalam satu budaya;
  2. Difusi adalah peminjaman elemen-elemen budaya baru dan kebudayaan lain;
  3. Reinterpretasi adalah modifikasi elemen-elemen budaya yang ada untuk memenuhi tuntutan zaman.

Pendidikan merupakan suatu kondisi yang perlu untuk kelanjutan suatu budaya. Pendidikan juga alat yang penting untuk kerjasama yang intelegen dengan perubahan budaya. Demikianlah salah satu cara sebuah masyarakat berusaha tetap seirama dengan perubahan ialah dengan merubah pada setiap generasi warisan budaya yang diajarkan di sekolah. Untuk mencapai tujuan ini para pendidik menafsirkan kembali pengetahuan dan nilai-nilai lama untuk menghadapi situasi-situasi baru. Sebuah kebudayaan juga mungkin melakukan antisipasi  masa depan dengan menyiapkan generasi muda dengan informasi, sikap-sikap, dan ketrampilan tertentu yang direncanakan untuk menghadapi situasi tertentu yang direncanakan untuk menghadapi situasi yang akan datang.

Selanjutnya, pendidikan mungkin secara tidak sengaja bisa menjadi sumber perubahan kebudayaan. Masing-masing kebudayaan telah mempersiapkan anggota-anggotanya untuk bertindak, berfikir, dan memandang dalam apa yang dinamakan antropolog “a culturally delimited universe” yang terdiri dari dunia yang telah diciptakan oleh budaya tersebut dan aspek-aspek alam semesta yang telah dipilih mereka untuk menjadi sesuatu yang bermakna. Jules Hendry mengatakan: kita boleh berspekulasi bahwa kebudayaan yang stabil telah menyempurnakan atau hamper menyempurnakan, proses mempersempit bidang persepsi anak-anak dengan melatih anak-anak untuk membebaskan fikiran mereka dari apa-apa yang dipilih bagi persepsi mereka oleh kebudayaan tersebut (Manan, 1989). Namun, bahkan budaya yang sangat totaliter sekalipun tidak dapat secara sempurna membatasi pemahaman anak-anak. Perbedaan antara apa yang dianggap harus dipelajari anak-anak dengan apa yang sebenarnya dipelajari mereka merupakan sebuah sumber konflik dan perubahan yang penting dalam sebuah kebudayaan. Dengan menggunakan pendidikan untuk bekerjasama dengan perubahan kebudayaan, maka terdapat beberapa aliran untuk mempengaruhi dan mengontrol kebudayaan, antara lain: aliran progresif, aliran konservatif, dan aliran rekonstruksionis.

  1. Aliran Progresif

Pendidikan progresif, yang biasa dikenal menawarkan sebuah via media antara dua pandangan yang mengatakan bahwa perubahan pendidikan seluruhnya tergantung pada perubahan kebudayaan dan pendidikan dapat merubah dirinya sendiri dan masyarakat tanpa perlu bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan sosial. Meskipun pendidikan tidak dapat menentukan arah perubahan sosial (karena secara sendiri pendidikan tidak dapat melakukan pengungkitan yang cukup kuat terhadap kekuatan-kekuatan budaya yang menantang), namun demikian pendidikan dapat memperkembangkan mentalitas yang sanggup menghadapi perubahan bila terjadi yaitu pendidikan dapat mengajari anak-anak untuk bereaksi terhadap perubahan secara inteligen. Dengan cara ini masyarakat akan dididik untuk memperbaiki dirinya sendiri tanpa pendidik perlu meyakinka generasi muda tentang perubahan-perubahan tertentu yang pendidik menganggap pasti diingini. Untuk tujuan ini anak-anak harus mempelajari dan memecahkan situasi-situasi yang diambil dari kehidupan nyata yang mereka temukan sendiri sebagai situasi yang benar-benar merupakan masalah. Dari pengalaman ini mereka akan memperoleh disposisi intelektual dan emosional yang diperlukan, termasuk berbagai teknik tertentu untuk menghadapi perubahan pada umumnya. Situasi-situasi yang demikian akan ditemukan dalam kajian masalah-masalah kontemporer masa kini terutama melalui ilmu-ilmu sosial. Pendidik yang progresif tidak akan mengusulkan pemecahan masalah menurut pandangan pribadinya kepada anak-anak untuk diperdebatkan, tetapi akan membiarkan anak-anak mencapai atau menemukan kesimpulan mereka sendiri yang sesuai dengan nilai-nilai mereka sendiri. Pendidikan progresif menolak rencana apapun untuk menggunakan sekolah guna menanamkan sebuah progam reformasi sosial, mereka berpendapat bahwa “indoktrinasi” yang demikian membatasi pertumbuhannya, pendidikan progresif  juga menentang usaha apapun untuk merinci secara pasti apa sebenarnya masyarakat yang baik itu atas dasar bahwa masa depan itu sangat tidak pasti. Dengan menganggap bahwa filsafat pendidikan mereka sebagai yang paling demokratis dari semua yang lain, para pendidik progresif  lebih mengajurkan sebuah masyarakat yang berkembang sendiri dari pada sebuah masyarakat yang direncanakan terlebih dahulu.

  1. Aliran Konservatif

Menurut pendidik konservatif , sekolah tidak dapat memaksakan gerak perubahan sosial tanpa mengurangi fungsi pendidikan yang sebenarnya yaitu melatih intelektual. Sekolah bukanlah sebuah lembaga perubahan yang tepat, tetapi sebuah pranata belajar. Karena individu yang merubah masyarakat bukan sebaliknya, cara yang tepat untuk memperbaiki masyarakat adalah dengan memperbaiki individu yang ada di dalamnya. Dalam pandangan ini sekolah bertanggungjawab menanamkan dalam diri siswa apa yang secara permanen berguna dalam warisan budaya dan bagi penyesuaian mereka terhadap masyarakat yang ada pada waktu itu. Jika sekolah berubah menjadi agen perubahan budaya, maka sekolah akan mempersiapkan peserta didik untuk menimbang masalah-masalah budaya menurut nilai-nilai mereka sendiri, tidak hanya karena nilai-nilai mereka belum matang, tetapi juga karena masalah-masalah yang demikian mesti dipertimbangkan berdasar nilai-nilai yang esensial dari warisan budaya, dan karena itu tidak cocok untuk topik perdebatan di sekolah. Selain itu, juga akan menjadikan sekolah menjadi rebutan di antara kelompok-kelompok kepentingan yang saling bersaingan.

  1. Aliran Rekonstruksionis

Rekonstruksionis adalah para pendidik sendiri harus membangun kembali masyarakat dengan mengajarkan kepada generasi muda sebuah program perubahan sosial secara bersamaan baik secara detail maupun secara keseluruhan. Aliran ini memperbaiki 3 kekurangan aliran progresif: kekurangan tujuan-tujuan, suatu penekanan yang tidak tepat pada individualism, dan peremehan rintangan-rintangan budaya terhadap perubahan sosial.

Masyarakat yang baru harus mengharmoniskan nilai-nilai dasar kebudayaan Barat dengan kekuatan-kekuatan pendorong dunia modern. Masyarakat tersebut merupakan masyarakat demokratis yang institusi-institusi dan sumber-sumber utamanya industry, transpor, kesehatan dan sebagainya. Tujuan dari demokrasi nasional adalah sebuah pemerintahan dunia yang demokratis dalam semua Negara.

Menurut Brameld sekolah harus meyakinkan peserta didiknya  bahwa program rekonstruksionis beralasan dan penting, tetapi hal ini harus dilaksanakan secara demokratis, atau menolak prinsip demokrasi yang dianut. Guru harus mendorong peserta didiknya untuk memeriksa/menguji butir-butir yang mendukung dan menolak rekonstruksionisme, guru harus mengemukakan usul-usul alternatif secara bertanggung jawab, dan guru harus mengizinkan peserta didiknya mempertahankan pandangan-pandangan mereka sendiri secara terbuka.

Paham rekonstruksionis telah mendapatkan banyak perhatian, tetapi sedikit dukungan. Paham ini telah dikritik karena terlalu ambisius. Menggambarkan masa depan demikian terincinya berarti meremehkan dua fakta terkenal: pertama, waktu memudarkan semua kecuali semua yang paling umum dari pembaruan/perubahan jangka panjang; kedua, perubahan apapun yang direalisasikan adalah hasil kompromi dan saling penyesuaian. Rekonstruksionisme juga dikatakan meremehkan realitas politik masa kini, terutama bahwa tidak ada pemerintah yang akan mengizinkan sekolahnya dipergunakan untuk mengembangkan pandangan yang ditantangnya. Selanjutnya, dalam menarik peserta didik untuk menerima sebuah program pembaharuan sosial yang belum disetujui masyarakat, penganut rekonstruksionismehanya akan mengubah peserta didik dari kebudayaannya, dari orang tua, dan dari teman-teman sebaya yang tidak bersekolah di sekolah golongan rekonstruksionisme.

Beberapa kritik diajukan terhadap usaha apapun, seperti rekonstruksionis, untuk menggunakan pendidikan menciptakan sosial baru. Karena salah satu penggerak pertumbuhan kebudayaan adalah perubahan tekno-ekonomi, yang kemudian, jika kita ingin memberi arah baru kepada masyarakat, kita harus mengawasi atau mempengaruhi, kecepatan dan arah perkembangan tekno-ekonomi. Alternatifnya adalah membiarkan teknologi merintis jalan bagi kebudayaan untuk mengikutinya dan menghilangkan cultural lag dengan mengizinkan pendidikan meningkatkan kecepatan perubahan nilai-nilai budaya.

Pandangan-pandangan beberapa Antropolog (Manan, 1989)

Menurut Montagu tujuan utama dari sekolah di masa sekarang seharusnya tidak lebih dari merubah kemanusiaan dengan mengajar generasi yang lebih muda bagaimana “mencintai” melalui pendidikan dalam “seni hubungan antar manusia”. Sekolah harus mengajarkan semua mata pelajaran dengan memfokuskan pada “arti bagi hubungan-hubungan manusia”. Sekolah harus mendorong peserta didik menilai dunia “secara human dan kritis” tidak hanya meniri orang tua dan guru. sekolah harus berhenti menanamkan nilai-nilai masyarakat industri, seperti persaingan dan sukses materi, sebaliknya mengembangkan nilai-nilai seperti kesabaran, kerjasama, dermawan dan kedamaian dalam pikiran. Hal ini disebabkan tata masyarakat baru tidak akan dibangun hanya atas maksud baik, sekolah juga harus mengajar peserta didiknya, sebagai bagian dari latihan mereka dalam hubungan-hubungan manusia.

Jika sekolah akan membuat anak menjadi orang yang mencintai satu sama lain, menurut Montagu, sekolah harus mendidik peserta didik sejak dini. Meskipun keluarga mempunyai peran penting dalam pembentukan kepribadian, untuk hubungan kemanusiaan secara lebih mendalam diajarkan di sekolah. Karena itu peserta didik harus masuk Taman Kanak-Kanak.

W. Lloyd Warner mengemukakan bahwa pendidikan seharusnya mencerminkan kondisi-kondisi social yang ada, atau pendidikan akan gagal dalam tugasnya menyesuaikan generasi yang akan datang terhadap lingkungan sosial budaya. Jika sekolah tidak sejalan dengan lingkungannya, sekolah akan merusak anak-anak.

Anthony F. C. Wallace berpendapat bahwa pendidikan melayani kebutuhan tiga jenis masyarakat, yaitu masyarakat revolusioner, masyarakat konservatif, dan masyarakat reaksioner. Masyarakat revolusioner seperti Cina dan Cuba berusaha merubah budaya mereka secara keseluruhan. Mereka perlu untuk memperkuat kembali penduduk mereka secara moral untuk menciptakan elit yang penuh dedikasi dan secara intelektual, yang akan mengendalikan tugas-tugas transformasi. Karena itu pendidikan akan menekankan moralitas, latihan intelektual, dan berhubungan dengan keterampilan teknis. Dalam masyarakat konservatif, seperti Inggris dan Amerika, yang perhatian utama mereka memelihara dan memperbaiki tata sosial yang telah mapan, maka intelek dan moralitas tidak berperan penting. Pendidikan cenderung akan memusatkan perhatian pada keterampilan teknis. Masyarakat reaksioner, seperti Portugal atau Afrika Selatan, yang ditantang oleh gerakan revolusioner, mempertahankan nilai-nilai tradisional yang sedang mendapat serangan dengan menjadikan moralitas sebagai fokus sistem pendidikan. Masyarakat ini cenderung untuk membatasi latihan intelektual.

Umumnya antropolog setuju dengan pendidik-pendidik konservatif bahwa sekolah memiliki sedikit atau tidak ada sama sekali pengaruh yang bebas terhadap perubahan sosial budaya. Pandangan ini dinyatakan oleh seorang pendidik Inggris, A.K.C. Ottoway. Dia mengemukakan, bahwa pendidikan dapat menghasilkan perubahan-perubahan dalam kebudayaan dan masyarakat hanya di bawah perintah-perintah dari mereka yang berkuasa. Terutama di Negara-negara totaliter pendidikan dapat merubah sikap seluruh generasi, tetapi hal tersebut dapat terjadi karena pendidikan diarahkan untuk berbuat demikian oleh partai yang berkuasa. Pendidikan juga dapat dapat menyiapkan orang-orang muda untuk perubahan dengan mendorong timbulnya kebiasaan-kebiasaan memberikan pertmbangan bebas, tetapi hal tersebut dapat dilakukan jika pertimbangan tersebut telah dihargai oleh masyarakat luas.

Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang telah berkembang secara historis dan memiliki organisasi dan struktur yang terus menerus dipelajari oleh anggota-anggota suatu masyarakat. System gagasan yang bersumber dari akal manusia itu melahirkan bentuk-bentuk tingkah laku berpola dan berbagai jenis kebudayaan materiil. Karena itu secara analitis Koentjaraningrat mengemukakan adanya tiga wujud kebudayaan, yaitu wujud kompleks ide-ide, wujud kompleks aktivitas kelakuan berpola, dan wujud benda-benda hasil karya manusia.

Dalam suatu masyarakat sederhana yang terdiri dari beberapa puluh orang, seorang anggota yang telah dewasa dapat mengetahui hampir semua unsur budaya kelompoknya. Namun demikian, adanya pembagian kerja yang paling elementer antara wanita dan pria telah menyebabkan adanya perbedaan dalam penguasaan unsur-unsur dan wujud kebudayaan yang dapat diketahui oleh seseorang, makin tinggi tingkat pembagian kerja dan makin banyak jumlah anggota suatu masyarakat, makin kompleks teknologi yang digunakan maka makin terbatas unsure dan wujud budaya yang dikuasai oleh seorang anggota suatu masyarakat. Apalagi kalau suatu masyarakat atau bangsa terbentuk sebagai akibat penggabungan berbagai suku bangsa.

Dalam masyarakat seringkali wujud ideal kebudayaan dinamakan adat tata kelakuan atau adat saja. Kebudayaan ideal ini berfungsi sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat. Menurut Koentjaraningrat, wujud ideal ini akan berbentuk nilai, norma, hukum, dan peraturan-peraturan.

Dalam masyarakat manusia pendidikan merupakan gejala yang universal, tetapi tidak semua masyarakat mempunyai system persekolahan atau pendidikan formal. Dalam berbagai masyarakat telah berkembang berbagai bentuk system persekolahan, termasuk dalam masyarakat sederhana dengan ekonomi yang masih bersifat subsistensi dan belum mempunyai aksara. Pemilihan aksara dapat dipakai sebagai sebagai salah satu faktor kunci dalam menemukan tingkat perkembangan kebudayaan. Bahasa tertulis yang dimungkinkan oleh adanya aksara telah memunculkan peradaban yang tinggi. Adanya bahasa tertulis telah memungkinkan suatu masyarakat untuk memupuk pengalaman, mengkaji ulang pengalaman-pengalaman dari satu generasi ke generasi berikutnya yang akan menjurus kepada perkembangan ilmu pengetahuan yang menjadi motor penggerak perkembangan peradaban umat manusia. Ada atau tidaknya aksara dalam suatu masyarakat membawa peradaban besar yang bersifat kualitatif dalam kehidupan kemasyarakatan.

Walaupun hakekat yang tepat dari kontribusi pendidikan terhadap modrnisasi dan pembangunan masih diperdebatkan namun yang jelas adalah barangkali sedikit (kalau ada) pertentangan menyangkut generalisasi bahwa masyarakat modern dan maju memerlukan dukungan system pendidikan yang berkembang denagn baik.

Kecepatan perubahan sosial dalam berbagai masyarakat berbeda-beda. Perubahan dalam masyarakat yang terpencil berjalan lambat, akan tetapi bila dengan terbukanya komunikasi dan transportasi daerah itu berkenalan dengan dunia modern, maka masyarakat ini akan berkembang dengan lebih cepat. Ada aspek-aspek kebudayaan seperti adat istiadat yang disampaikan turun temurun dalam bentuk aslinya, akan tetapi banyak pula adat kebiasaan yang mengalami perubahan terutama dalam masyarakat modern. Di samping itu terdapat perbedaan kecepatan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Perubahan mengenai benda-benda materiil seperti alat-alat, pakaian, hasil industry, misalnya mobil, radio, arloji, dan sebagainya sangat cepat, orang senantiasa mencari barang yang paling modern dan paling baru. Barang-barang yang ketinggalan zaman segera diukar dengan yang baru. Sebaliknya terdapat hambatan dan tantangan yang keras terhadap perubahan dalam agama, adat istiadat, nilai-nilai, norma-norma, bentuk pemerintahan, filsafat hidup dan sebagainya.

Usaha untuk mencegah perubahan tidak selalu mudah karena sering ada hubungan antara perubahan materiil dengan perubahan cultural. Dibukanya jalan raya ke daerah terpencil, terbukanya desa bagi surat kabar, radio, TV dan film membawa perubahan dalam berbagai aspek kebudayaan. Pola hubungan antar manusia seperti pergaulan antara anak dengan orang tua, dan sebagainya, sering mengalami perubahan yang sukar dielakkan. Demikian pula pendidikan dan sekolah tak luput dari perubahan, karena pendidikan senantiasa berfungsi di dalam dan terhadap system sosial tempat sekolah itu berada.

Pendidikan berfungsi untuk menyampaikan, meneruskan, atau mentranmisi kebudayaan, diantaranya nilai-nilai nenek moyang kepada generasi muda (Nasution, 1983). Sekolah juga turut mendidik generasi muda agar hidup dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang cepat akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini sekolah merupakan “agent of change”, lembaga pengubah. Sekolah mempunyai fungsi transformative. Setidaknya sekolah harus dapat mengikuti laju perkembangan agar bangsa jangan ketinggalan dalam kemampuan dan pengetahuan disbanding dengan bangsa-bangsa lain. Untuk itu kurikulum harus senantiasa mengalami perubahan dan pembaharuan.

Dalam kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, sekolah memegang peranan penting sebagai “agent of change” untuk membawa perubahan-perubahan sosial. Akan tetapi dalam norma-norma sosial, seperti struktur keluarga, agama, filsafat bangsa, sekolah cenderung untuk mempertahankan yang lama dan mencegah terjadinya perubahan yang dapat mengancam keutuhan bangsa.

Dalam dunia yang dinamis ini tak dapat tidak setiap masyarakat akan mengalami perubahan. Tidak turut berubah dan mengikuti pertukaran zaman akan membahayakan eksistensi masyarakat itu. Tiap pemerintah akan mengadakan perubahan yang diinginkan demi kesejahteraan rakyatnya dan keselamatan bangsa dan negaranya. Untuk itu perlu diusahakan adanya keseimbangan antara dinamika dengan stabilitas. Perubahan-perubahan itu antara lain tercermin dalam perubahan dan pembaruan kurikulum dan system pendidikan. Peralihan dari zaman colonial ke zaman kemerdekaan memerlukan berbagai perubahan kurikulum sampai sesuai dengan filsafat bangsa kita.

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Pendidikan amatlah penting dalam berubahnya kebudayaan. Pendidikan sekaligus adalah sebuah  subsistem bagi kebudayaan dan sistem tersendiri yang berada di luarnya, yang menunjang pembentukan, pengembangan, dan pelestarian kebudayaan. Sebagai sebuah subsistem, pendidikan adalah bagian terpenting dari kebudayaan, berfungsi sebagai pengarah kebudayaan dan sekaligus mekanisme pewarisan nilai-nilai budaya sesuatu masyarakat dari satu ke lain generasi. Sebaliknya, sebagai sebuah sistem tersendiri ia ditunjang oleh kebudayaan untuk membantu perkembangan hidup manusia, baik  perorangan  maupun  kelompok. Pendidikan dan kebudayaan saling berpengaruh. Hal tersebut dapat terlihat pada  pendidikan, baik formal maupun nonformal, adalah sarana untuk pewarisan kebudayaan. Setiap masyarakat mewariskan kebudayaannya kepada generasi yang lebih kemudian agar tradisi kebudayaannya tetap hidup dan berkembang, melalui pendidikan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi. Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s